Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 65

Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR

Selasa, 14 September 2021

Oleh. Ahmad Lahmudin

فإن للعبد استشراف إلى خلق, أو سبقية نظر إليهم قبل مجيء الرزق أو بعده فمقتضى هذا الورع, والواجب في حق الأدب, أن لا ينيل نفسه شيئا مما يأتيه على هذه الحال عقوبة لنفسه في نظره إلى أبناء جنسه, كقصة أيوب الحمال مع أحمد بن حنبل, رضي الله عنهم, وهي معروفة, وكما روي عن الشيخ أبي مدين رضي الله عنه أنه أتاه حمال بقمح فنازعته نفسه وقالت له: يا ترى, من أين هذا؟ فقال لها: أنا أعرف من أي هو يا عدوة الله, وأمر بعض أصحابه أن يدفعه لبعض الفقراء عقوبة لها, لكونها رأت الخلق قبل رؤية الحق تعالى.

Apabila seorang hamba mendangakkan pandangannya kepada makhluk, atau mengutamakan pandangan kepada mereka sebelum datangnya rizki atau sesudahnya, maka menurut wara’ ini dan yang wajib menurut adab, yaitu semestinya hamba tidak mendapatkan sedikitpun dari apa yang datang kepadanya berdasarkan kondisi ini, sebagai hukuman baginya sebab memandang kepada sesama manusia. Sebagaimana kisah Ayub al-Hammal bersama Ahmad bin Hanbal Radhiallahu ‘Anhum, kisah ini sudah sangat terkenal, sebagaimana yang diriwayatkan dari Syekh Abu Madyan Radhiallahu ‘Anhu; Sesungguhnya Ayub al-Hammal mendatangi Ahmad bin Hanbal dengan membawa gandum, kemudian ditentang oleh hawa nafsunya seraya berkata, “Aku heran, dari mana asal gandum ini?” Ayub al-Hammal pun menjawab, “Aku lebih mengetahui dari mana asal gandum ini, wahai musuh Allah!” Ia pun memerintahkan sebagian sahabatnya untuk diserahkan kepada sebagian orang-orang fakir sebagai hukuman atas nafsunya, sebab ia telah melihat makhluk sebelum melihat Allah Ta’ala.      

وقد قيل: أحل الحلال ما لم يخطر لك على بال, ولا سألت فيه أحدا من النساء والرجال.

Dikatakan, “Paling halalnya sesuatu yang halal yaitu sesuatu yang tidak terlintas dalam pikiran, dan jangan engkau meminta kepada seorang pun, baik kepada perempuan maupun lelaki!”

وقد صرح بهذا المعنى الذي ذكرناه وأوضح الغرض الذي قصدناه شيخ الطريقة وإمام أهل الحقيقة من المتأخرين أبو محمد عبد العزيز المهدي رضي الله عنه, فإنه قال: اعلم أن الورع أن لا يكون بينك وبين الخلق نسبة في أخذ أو إعطاء أو قبول أو رد, وأن يكون السبق لله تعالى, وهو أن تأتي إليه طاهرا من جميع الأشياء والعلم والعمل, كما قال تعالى: ولقد جئتمونا فرادى كما خلقناكم أول مرة (الأنعام: ٩٤)

Sungguh terdapat penjelasan dan tujuan terkait dengan makna yang telah kami tuturkan ini, yaitu penjelasan dari maha guru thariqoh dan imam para ahli hakikat dari kalangan ulama kontemporer, yaitu Abu Muhammad Abdul Aziz al-Mahdawi Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya wara’ adalah ketidakadaan keterkaitan antara dirimu dan makhluk, di dalam mengambil, memberikan, menerima, atau menolak. Yang lebih diutamakan adalah Allah Ta’ala. Engkau datang kepada-Nya dalam keadaan bersih dari semua urusan, ilmu, dan amal, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat al-An’am ayat 94”:

ولقد جئتمونا فرادى كما خلقناكم أول مرة

‘Dan kamu benar-benar datang sendiri-sendiri kepada Kami sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya’

وقال أيضا: الورع: أن لا تتحرك ولا تسكن إلا وترى الله في الحركة والسكون. فإذا رأى الله ذهبت الحركة والسكون وبقى مع الله, فالحركة ظرف لما فيها, كما قال بعضهم: ما رأيت شيئا إلا رأيت الله فيه. فإذا رأى الله ذهبت الأشياء.

Beliau juga berkata, “Wara’ adalah, kamu tidak bergerak dan tidak pula berdiam terkecuali kamu melihat Allah di dalam gerak dan diam kamu itu” Apabila seseorang telah melihat Allah maka hilang gerak dan diam, dan hanya menyisakan Allah. Maka gerak merupakan keadaan bagi sesuatu yang ada di dalamnya. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian dari mereka: “Engkau tidak melihat kepada sesuatu terkecuali engkau melihat Allah di dalamnya!” Oleh karenanya, apabila seseorang melihat Allah maka hilang segala hal.

وقال أيضا: أجمع العلماء على أن الحلال المطلق ما أخذ من يد الله بسقوط الوسائط. وهذا مقام الدليل ولهذا قال بعضهم: الحلال هو الذي لا ينسى الله فيه. إلى غير هذا من العبارات التي عبرها في هذا المعنى.

Dan beliau berkata pula, “Ulama sepakat bahwa halal yang sempurna yaitu sesuatu yang diambil dari tangan Allah dengan meniadakan perantara-perantara!” Inilah maqam tawakkal. Oleh karenanya sebagian mereka mengatakan, “Halal adalah sesuatu yang di dalamnya tidak menjadikan lupa kepada Allah!” Juga ungkapan-ungkapan lainnya yang semakna dengan ini.   وقال بعض هذه الطائفة: العبد كلهم يأكلون أرزاقهم, ثم يفترقون في المشاهدات, فمنهم: من يأكل رزقه بذل, ومنهم: من يأكل رزقه بامتهان, ومنهم: من يأكل رزقه بانتظار, ومنهم: من يأكل رزقه بعز بلا مهانة ولا انتظار ولا ذلة, فأما الذي يأكلون أرزاقهم بذل, فالسؤال يشهدون أيدي الخلق فيذلون لهم, وأما الذين يأكلون أرزاقهم بامتهان فالصناع يأكل أحدهم رزقه بمهنته وكده, وأما الذين يأكلون أرزاقهم بانتظار فالتجار ينتظر أحدهم على نفاق سلته,

فهو متعوب القلب معذب بانتظاره, وأما الذين يأكلون أرزاقهم بعز من غير مهنة ولا انتظار ولا ذل, فالصوفية يشهدون العزيز فيأخدون قسمتهم من يده بعزة.  

Berkata sebagia kelompok ini, “Semua hamba memakan rizki-rizki mereka. Kemudian mereka bercerai berai dalam alam syahadah (ketersingkapan yang nyata). Sebagian dari mereka memakan rizkinya dengan cara hina, sebagian memakan rizkinya dengan cara tidak hormat, sebagian memakannya dengan cara menunggu, dan sebagian lagi memakan rizkinya dengan cara mulia tanpa kerendahan, tanpa menunggu, dan tanpa kehinaan. Orang-orang yang memakan rizkinya dengan cara hina, yaitu seperti para peminta-minta yang memperlihatkan diri kepada tangan-tangan makhluk, maka mereka menjadi terhina. Orang-orang yang memakan rizkinya dengan cara tidak hormat, yaitu seperti para pekerja, mereka memakan rizkinya dengan pekerjaan dan kerja keras mereka sendiri. Orang-orang yang memakan rizki mereka dengan cara menunggu, yaitu seperti para pedagang yang menantikan barang dagangan mereka, maka hati mereka menjadi lelah, tersiksa sebab penantian mereka. Sedangkan orang-orang yang memakan rizkinya dengan cara mulia, tanpa bekerja, tanpa menunggu, dan tanpa kehinaan, yaitu para sufi, mereka hanya melihat kepada Allah, mereka mengambil bagian mereka dari tangan Allah dengan cara mulia”    

Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Haikal Syah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *