SAHABAT SEJATI

Gambar ilustrasi

Oleh. Ahmad Lahmudin

الحمد لله الذى توحد بجلال ملكوته . وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له . وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله الذي بعقه الله بالبيان . وعلى اله وأصحابه , وأولاده وأزواجه وأحبابه , صلاة وسلاماً لا يعتريهما انصرام , دائمين متلازمين , على مَمَرِّ الدهور والأيام.

Anakku sayang …
Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah berkata;

عليكم بالإخوان فإنهم عدّة في الدنيا والاخرة
Berpegang teguhlah kamu dengan ikatan persahabatan. Sebab kamu akan bersama mereka, di dunia hingga kelak di akhirat!

Kata ‘Ikhwan’ bentuk jama yang tunggalnya adalah ‘Akhun’ yang berarti menuju kepada kehendak sahabatnya, Yatawakho Mazhaba Akhihi. Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk selalu bersyukur atas setiap nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. Salah satunya adalah nikmat persaudaraan, persahabatan, Fa Ashbahtum Bini’matihi Ikhwanan (QS. Ali Imron: 103)

Persahabatan itu harus dua arah, Musyarakah baina Isnaini. Saling menyayangai. Saling berbagi. Saling empati. Saling mengunjungi. Saling mengingatkan.

Dari persahabatan akan lahir kasih sayang, kebersamaan. Bersahabat bukan berarti harus sama. Perpecahan oleh agama tidak dibenarkan. Sebab hanya akan membawa kepada jurang kehancuran. Agama mentolerir perbedaan dalam persoalan furu’iyyah, ijtihadiyyah. Perbedaan sebagai suatu keniscayaan dalam kehidupan keberagamaan yang bersifat dinamis untuk menghadapi tantangan zaman. Perbedaan yang membawa kepada kemafsadatan, kerusakan itu yang dilarang. Inilah yang di maksud oleh hadis Nabi;
اِخْتلاف أمتي رحمة
Perbedaan di antara umatku adalah rahmat!

Sahabat sejati harus dibangun di atas kasih sayang karena Allah, Al Ukhuwwah Fillah. Harus menyayangi juga disayangi. Nabi bersabda;

المؤمن اَلِفٌ مألوف , ولا خير فيمن لا يؤلف ولا بألف ( رواه أحمد والحاكم وغيرهما )
Mukmin adalah pribadi yang menyayangi juga disayangi. Tidak ada kebaikan pada pribadi yang tidak disayangi dan tidak menyayangi.

Dari Anas bin Malik radiallahu anhu, Rasulullah bersabda;

إن لله تعالى عبادا يوضع لهم يوم القيامة المنابر يقعدون عليها, هم قوم لباسهم نور, ووجوههم نور, ليسوا بأنبياء ولا شهداء يغبضهم الأنبياء والشهداء . فقالوا من هم يا رسول الله؟ قال: المتحابون في الله والمتزاورون والمتجالسون في الله ( رواه الطبراني في الأوسط )
Ada hamba-hamba Allah yang dibuatkan mimbar teruntuk mereka. Mereka duduk di atasnya. Pakaian mereka bercahaya. Wajah-wajah mereka juga bercahaya. Mereka bukanlah para Nabi. Bukan pula para syuhada. Namun para Nabi dan para syuhada berbaur, bersuka cita dengan mereka. Para sahabat bertanya, siapa gerangan mereka wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: Mereka itu orang-orang yang saling mencintai, saling berkunjung, duduk bersama karena Allah.

Anakku sayang …
Apabila sahabat meninggal maka laksana hilang anggota tubuh bagi sahabat yang ditinggalkannya. Demikianlah perumpamaan seorang mukmin yang ditinggalkan oleh sahabat sejatinya yang digambarkan oleh Rasulullah SAW;

المؤمن كالجسد الواحد إذا اشتكى منه عُضْوٌ تداعى له سائر الجسد بالحُمَّى والسَهَر ( رواه مسلم والإمام أحمد وغيرهما )
Mukmin dengan mukmin yang lain seperti satu jasad. Apabila satu anggota tubuh sakit maka akan merasakan sakit anggota badan yang lainnya.
Sahabat sejati tidak akan berkata buruk. Tidak pula mencaci. Tidak menyebar kebencian. Tidak memutus ikatan silaturrahim. Dia akan melindungi sahabatnya agar terhindar dari kesalahan.

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: انصرْ أخاك ظالما أو مظلوما
Nabi Muhammad SAW bersabda: Bantulah temanmu yang berbuat dzolim dengan mencegahnya, atau terdzolimi dengan cara melindunginya.
Berikutnya sahabat sejati harus mempunyai rasa empati. Dapat meringankan beban, kesulitan yang dialami oleh sahabatnya.

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من نفّس عن مؤمنٍ كرْبَةً من كُرَبِ الدنيا نفّس الله عنه كربةً من كرب يوم القيامة, ومن يسّر على مُعسرٍ يسر الله عليه فى الدنيا و الأخرة. ( رواه مسلم )
Nabi bersabda: Barang siapa yang meringankan beban seorang mukmin maka akan diringankan kelak bebannya di hari kiamat. Dan barang siapa yang memudahkan kesulitan seorang mukmin maka akan dimudahkan urusannya di dunia dan akhirat.

Anaku sayang …
Saat ini kita sedang diuji tentang persahabatan kita. Musibah banjir yang melanda di sekitar kita. Sudahkah kita berbagi? Minimal memiliki rasa empati. Bukankah kita bersahabat dengan tetangga kita? Bukankah pemimpin adalah sahabat bagi yang dipimpinnya? Bukankah anggota dewan yang terhormat merupakan sahabat dari konstituennya? Bukankah tokoh agama juga bersahabat dengan umatnya? Bila hari kita hanya terpaku di kediaman kita yang bebas banjir sambil asyik mengamati korban banjir lewat media sosial padahal kita mampu untuk memberi. Bila kita pejabat yang hanya memberi instruksi kepada bawahan sambil sesekali berselfie di antara kerumunan korban banjir. Bangga dengan mie instan yang diberikan tanpa mengetahui bahwa alat memasak para korban telah tenggelam dalam air. Bahwa pakaian kering yang tersisa hanya yang mereka kenakan. Bahwa hanya sedikit tersisa beras yang akan dimasak. Bahwa air bersih untuk minum dan mandi telah berubah warna hitam pekat bercampur dengan lumpur air sungai. Bahwa masih tersisa di rumah mereka orang yang enggan untuk dievakuasi sebab sakit. Bahwa ada tangisan balita yang minta susu. Bahwa gatal-gatal menjadi ritual mereka. Bahwa penyakit pasca banjir mengintai mereka.

Anaku sayang …
Rasanya kita masih teramat jauh untuk menjadi sahabat sejati ..???

Sumber;
Tanwirul Qulub Fi Mu’amalatil’ulum al Ghuyub, Syekh Muhammad Amin AL Kurdi, 431-434
Tafsir Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an, Al Qurtubi, Juz 5, 241-252
Kamus Al Munawwir, KH Ahmad Warson Munawwir

Penulis adalah Rois Syuriah MWC NU Tarumajaya

Post Author: Administrator

1 thought on “SAHABAT SEJATI

    Eman Sulaeman

    (26 February 2020 - 02:20)

    Semoga MWC NU Tarumajaya, banyak membawa manfaat untuk masyarakat sekitar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *