Pengajian Kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke-7)

Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 7)
Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR
Sabtu, 5 September 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

فصلٌ فى شُروط الصلاة

Pasal tentang syarat-syarat shalat

أو بنجس – وإن قلّ التغير (ولو كان) الماء (كثيرا) أى قلتين أو أكثر فى صورتى التغيير بالطاهر والنجس. والقلتان بالوزن خمسمائة رِطْلٍ بَغْدادِىٍّ تقريبا وبالمِسَاحة فى المُرَبَّع ذِرَاعٌ ورُبْعٌ طُوْلًا وعَرْضًا وعَمْقًا بذراع اليد الْمُعْتدِلَة وفى المُدَوَّرِ ذِراعٌ من سائر الجَوانب بذراع الاَدَمىِّ وذرعان عمقا بذراع النجار وهو ذراع وربع

Syarat air yang dapat digunakan untuk bersuci yaitu air yang mutlak yang tidak musta’mal dan juga tidak mengalami perubahan pada sifat-sifat air. Perubahan pada air disebabkan oleh bercampur dengan benda suci. Atau perubahan air disebabkan oleh benda najis meskipun perubahannya sedikit. Air tidak dapat digunakan untuk bersuci meskipun kadar air itu banyak (dua kullah atau lebih) oleh sebab air bercampur dengan benda suci atau najis yang kemudian mengalami perubahan pada sifat air. Hanya saja bila perubahannya sedikit oleh benda suci maka dapat ditolerir. Namun bila perubahan tersebut disebabkan oleh benda najis maka tidak dapat ditolerir, baik perubahan itu banyak maupun sedikit. Ukuran dua kulah itu menurut perkiraan ritel Baghdad yaitu 500 ritel atau seukuran wadah persegi yaitu 1 ¼ (1,25) zira (tangan dari siku sampai ujung jari), baik panjang, lebar dan kedalamannya dengan seukuran standar tangan orang dewasa. Pada wadah yang berbentuk bulat yaitu 1 zira untuk seluruh dindingnya dan 2 zira untuk kedalamannya.

ولا تنجس قلتا ماء ولو احتمالا كأن شك فى ماء أبلغهما أم لا وإن تيقنتْ قلته قبل بملاقاة نجس مالم يتغير به وإن استهلكت النجاسة فيه

Air dua kulah tidak menjadi najis sebab kejatuhan benda najis meskipun ada keragu-raguan, apakah telah mencapai dua kulah atau belum? Meskipun diyakini sebelum timbul keraguan bahwa air memang betul-betul sedikit kemudian ditambahkan sehingga timbul keraguan tersebut. Dengan syarat benda najis tersebut tidak merubah sifat-sifat air meskipun benda najis tersebut hancur di dalam air.

ولا يجب التباعد من نجس فى ماء كثير ولو بال فى البحر مثلا فارتفعت منه رغوة فهى نجسة إن تحققت أنها من عين النجاسة أو من المتغير أحد أوصافه بها وإلا فلا

Tidak wajib untuk menjauh diri dari najis pada air yang banyak. Seandainya seseorang buang air kecil di laut kemudian muncul buih busa maka buih busa tersebut dihukumi najis jika betul-betul diyakini bahwa itu berasal dari benda najis air kencing. Atau buih busa berasal dari air yang berubah salah satu sifatnya disebabkan oleh benda najis tersebut maka dihukumi najis. Jika betul-betul diyakini buih busa bukan berasal dari benda najis maka tidak dihukumi najis.

ولو طُرِحتْ فيه بَعْرَةٌ فوقعتْ من أجل اطَّرْحِ قَطْرةٌ على شيء لم تُنجِّسْه

Apabila dilemparkan kotoran hewan ke dalam air kemudian sebab lemparan tersebut terjadi percikan air yang mengenai sesuatu maka percikan tersebut tidak menjadikan najis sesuatu yang mengenainya.

ويَنْجُسُ قليلُ الماء وهو ما دون القلتين حيث لم يكن واردًا بوصول نجْسٍ إليه يُرَى بالبصر المعتدِل غيرِ مَعْفُوٍّ عنه فى الماء ولو معفوا عنه فى الصلاة كغيره مِنْ رَطْبٍ ومائِعٍ وإن كثُر

Air yang sedikit, yaitu air yang kurang dari dua kulah, dapat menjadi najis jika air tersebut dalam keadaan tidak mendatangi najis. Air sedikit tersebut menjadi najis disebabkan bertemunya najis dengan air. Najisnyapun dapat terlihat oleh pandangan mata yang normal dan tidak termasuk najis yang dapat ditolerir ketika berada dalam air, meskipun najis tersebut dapat ditolerir ketika dalam shalat, seperti darah nyamuk. Air yang sedikit bisa menjadi najis sebab bertemu dengan benda najis. Demikian pula selain air yang sedikit, seperti sesuatu yang lembab dan benda cair dapat menjadi najis sebab bertemu dengan benda najis, meskipun kadarnya banyak.

لا بوصولِ مَيْتةٍ لا دَمَ لِجِنْسِها سائِلٌ عند شَقِّ عُضْوٍ منها كعَقْربٍ ووَزْغٍ إلا إنْ تغيَّرَ ما أصابتْه ولو يسيرًا فحينئذٍ ينجُس لا سَرْطانٍ وضَفْدَعٍ فينجُس بهما خلافًا لِجمْعٍذ

Air yang sedikit, sesuatu yang lembab dan benda cair, tidak menjadi najis dengan sebab bertemu dengan bangkai binatang yang sejenisnya tidak memiliki darah yang mengalir ketika anggota badannya terpisah, seperti kalajengking, cicak. Terkecuali jika bertemu bangkai binatang tersebut dapat merubah sifat air, sesuatu yang lembab dan benda cair, meskipun perubahannya sedikit, maka seketika itu dapat menjadikan najis. Berbeda dengan kepiting dan katak yang termasuk kategori jenis binatang yang memiliki darah mengalir ketika anggota badannya terpisah, maka keduanya dapat menjadikan najis. Namun oleh sekelompok ulama, kepiting dan katak tidak menjadikan najis.

ولا بِمَيْتةٍ كان نَشْؤُها مِن الماء كالعَلَق ولو طُرِحَ فيه ميتةٌ من ذلك نجَسَ وإنْ كان الطارحُ غيرَ مكلَّفٍ ولا أثَرَ لِطَرْحِ الْحَىِّ مُطلقًا

Air yang sedikit, sesuatu yang lembab dan benda cair, tidak menjadi najis dengan sebab bertemu dengan bangkai binatang yang semasa hidupnya menetap di air, seperti lintah. Jika dilemparkan ke dalam air bangkai yang sejenisnya tidak memiliki darah yang mengalir ketika anggota badannya terpisah dan bangkai binatang yang semasa hidupnya menetap di air maka air tersebut menjadi najis, meskipun orang yang melemparkannya belum mukallaf. Dan tidak berpengaruh kepada kesucian air ketika binatang yang dilemparkan dalam keadaan hidup, baik binatang yang tinggal di daratan maupun di air.

واخْتارَ كثيرون مِنْ أئِمَّتِنا مذهبَ مالكٍ أنَّ الماء لا ينجُسُ مطلقا إلا بالتعيُّرِ والْجارِى كَراكدٍ

Mayoritas ulama dari para imam kita memilih pendapat Imam Malik, bahwa sesungguhnya air tidak menjadi najis, baik kadarnya banyak maupun sedikit, terkecuali adanya perubahan pada sifat air. Hukum air yang mengalir seperti hukum air yang tidak mengalir.

وفى القديمِ لا ينجُس قلِيلُهُ بلا تَغيُّرٍ وهو مذهبُ مالكٍ قال فى المَجْموع سواءٌ كانتْ النجاسةُ مائعةً أو جامدةً والماءُ القليلُ إذا تَنَجَّسَ يطْهُرُ ببلوغه قُلَّتينِ ولو بماءٍ مُتنجِّسٍ حيث لا تغيَّرَ به والكثير يطهُرُ بزوال تَغيُّرِهِ بنفسه أو بماءٍ زِيْدَ عليه أو نُقِصَ عنه وكان الباقِى كثيرًا

Di dalam qaul qadim Imam Syafi’i, dikatakan bahwa air yang sedikit tidak menjadi najis bila tidak berubah sifatnya. Demikian pula pendapat Imam Malik. Imam Nawawi berkata di dalam kitab Majmu’, tidak ada perbedaan bentuk najis, apakah cair maupun beku. Air yang sedikit apabila terkena benda najis maka dapat menjadi suci bila air telah mencapai dua kulah, meskipun bertambah dengan air yang terkena najis, dengan syarat air tersebut tidak berubah dengan sebab air yang terkena najis. Air yang banyak dapat menjadi suci dengan hilangnya perubahan pada sifat air, baik hilangnya perubahan pada air disebabkan oleh air itu sendiri atau dengan menambahkan air baru atau dengan mengurangi kadar air dengan menyisakan air yang masih banyak.

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *