KUBURPUN BERKATA!

Oleh: Ahmad Lahmudin

gambar ilustrasi, sumber : google

الحمد لله الذى جعلنا من الناصحين , وافهمنا من علوم العلماء الراسخين . والصلاة والسلام على من نسخ دينُه أديانَ الكفرة والطالحين , وعلى اله واصحابه الذين كانوا بتمسك شريعتِه صالحين .

Anak-anakku sayang…
Membicarakan tentang kematian, adakalanya dapat melalui lisan atau ucapan, ini disebut dengan lisanul maqal. Kematian juga dapat dipahami melalui apa yang kita lihat, ini sebut dengan lisanul hal. Sesuatu yang kita lihat berbicara kepada kita, menasehati kita, mengingatkan kepada kita semua akan kepastian datangnya kematian. Dimulai dari mayit yang kita ta’ziyahi. Rasulullah SAW bersabda:

كفى بالموت واعظا
Cukup kematian seseorang itu sebagai peringatan bagi yang hidup
Kemudian keranda yang membawa mayit juga ikut bicara:

انظرْ الىّ بعقلك. انا الْمُهيَّا لِنقْلك. أنا سرير المنايا. كم سارَ مِثْلى بِمِثْلك
Lihatlah kepadaku dengan akalmu! Aku ini adalah tempat yang dipersiapkan untuk membawamu. Aku ini adalah ranjang kematian. Sudah banyak yang pergi berangkat bersamaku. Begitu juga kelak engkau pasti akan menyusulnya!

Anak-anakku sayang…
Sesuatu yang paling banyak berbicara, mengingatkan kepada kita tentang kematian adalah kubur. Tempat akhir persinggahan kita menuju alam akhirat. Tempat kembali untuk semua yang hidup, siapapun dia, apapun jabatannya, bagaimanapun status sosialnya. Berikut adalah ucapan kubur yang diceritakan oleh Rasulullah SAW:

يقول القبر للميْت حين يُوضَع فيه ويْحكَ يا ابنَ ادم ماغَرَّك بى ألم تعلمْ أنى بيتُ الفِتْنة ماغرّك بى إذ كنتَ تَمُرُّبى فُذاذاً
Tatkala mayit diletakkan di dalam kubur, maka kuburpun berkata: “Duhai, celaka engkau wahai anak Adam. Apa yang membuat engkau tertipu sehingga di masa hidupmu engkau melupakanku? Tidakkah engkau tahu bahwa aku adalah tempat penyiksaan, tempat kegelapan, tempat kesendirian, tempat tinggal ulat dan cacing. Apa yang membuat engkau tertipu. Padahal pasti engkau akan bertemu denganku satu demi satu!”
Berikutnya dari Ubaid bin ‘Amir al Laitsi:

ليس من ميتٍ يموت إلا نادتْهُ حُفْرَتُهُ التى يُدْفَنُ فيها أنا بيت الظلمة والوحدة والانفراد فان كنتَ فى حياتك لله مطيعاً كنتُ عليك اليوم رحمةً وإن كنتَ عاصياً فأنا اليوم عليك نِقْمةٌ أنا الذى مَن دخلنى مطيعاً خرج مسرورا ومن دخلنى عاصيا خرج مثبوراً
Tidaklah mayit itu mati. Akan tetapi ia akan mendengar ucapan kubur, tempatnya dipendam: “Aku ini adalah tempat kegelapan, tempat kesendirian. Jika engkau sewaktu hidupmu di dunia taat kepada Allah maka aku pada hari ini menjadi rahmat teruntukmu. Tapi jika engkau berbuat maksiat sewaktu hidup di dunia maka aku pada hari ini menjadi tempat siksa teruntukmu. Barang siapa yang memasukiku dengan ketaatan maka ia akan keluar untuk dibangkitkan dengan perasaan gembira. Tapi barang siapa yang memasukiku dengan membawa kemaksiatan maka ia akan keluar dariku dengan membawa kekecewaan!”
Muhammad bin Sholeh berkata:

بلّغنا أن الرجل إذا وُضِعَ فى قبرِه فعُذِّبَ أو أصابَه بعضُ ما يُكْرَه نَادهُ جِيْرانُه مِن الموتَى أيُّها المُتخَلِّف فى الدنيا بَعْد إخوانِه وجيرانِه أَمَا كان لك فِيْنا مُعْتَبَرٌ أَما كان لك فى مُتَقَدِّمِنا إيّاك فِكْرَةٌ أما رأيتَ انْقطاعَ أعمالِنا عنّا وأنت فى الْمُهْلةِ فهلا استدْركْتَ ما فات إخْوانُك
Sesorang ketika diletakkan di dalam kubur kemudian disiksa atau mengalami hal yang tidak disukainya maka datang suara yang berasal dari tetangga kuburnya yang lebih dahulu meninggal: “Wahai orang yang baru saja meninggalkan saudara dan tetangganya di dunia. Tidakkah engkau menjadikan kami yang lebih dahulu berada di kubur menjadi sebuah peringatan? Tidakkah engkau melihat kami di sini yang tidak lagi bisa melakukan amal baik? Padahal ketika di dunia engkau bisa melakukan apa yang tidak lagi bisa kami lakukan?”
Yazid ar Riqasy berkata:

بلّغ أنّ الميت إذا وُضع فى قبْره احتوشتْه أعْمالُهُ ثم أنْطقَها اللهُ؟ فقالتْ أيها العبْدُ المنفرد فى حفرته انقطع عنك الأخِلَّاءُ والأهلون فلا أَنِيْسَ لك اليومَ عندنا
Sesungguhnya ketika mayit telah diletakkan di kuburnya maka mengelilingi amal-amal perbuatannya selagi hidup di dunia. Kemudian Allah membuat amal-amal tersebut dapat berbicara: “Wahai hamba yang sendiri, yang tidak ada lagi sahabat karib maupun keluarga yang menemani, maka kini sudah tiba saatnya engkau bersama kami di hari-hari yang tidak ada lagi rasa kasih sayang!”
Ka’ab bekata:

إذا وُضِع العبد الصالح فى القبر احتوشتْه أعمالُه الصالحةُ الصلاةُ والصيام والحجّ والحهاد والصدقة قال فتجئُ ملائكةُ العذاب مِن قِبَلِ رِجْلَيه فتقول: الصلاة إليكم عنه فلا سبيلَ لكم عليه فقد أطال بى القيامَ لله عليهما فيأتونه من قِبَلِ رأْسه فيقول الصيام: لا سبيلَ لكم عليه فقد أطال ظَمْأَهُ لله فى دار الدنيا فلا سبيل لكم عليه فيأْتونه من قبل جَسدِه فيقول الحجُّ والجهاد: إليكم عنه فقدْ أنْصبَ نفسَه وأَتْعَبَ بدنَه وحجَّ وجاهدَ لله فلا سبيل لكم عليه قال فيأتونه من قِبل يديه فتقول الصدقة: كُفُّوا عن صاحبى فَكم من صدقةٍ خرجتْ من هاتين اليدين حتى وقعتْ فى يد اللهِ تعالى ابتغاءَ وجههِ فلا سبيل لكم عليه قال فيُقالُ له هنيئًا طِبْتَ حيًّا وطِبتَ ميتًا قال وتأتيه ملائكةُ الرحمة فتفْرُشُ له فراشًا من الجنة ودِثَارًا من الجنة ويُفسَّحُ له قى قبره مَدُّ بَصَرِهِ ويُؤْتَى بقِنْديلٍ من الجنة فيستَضىءُ بِنورِه إلى يومٍ يبعَثُهُ الله من قبره
Ketika seorang hamba yang sholeh diletakkan di dalam kuburnya maka mengelilingi amal-amal baiknya selama hidup di dunia, baik shalat, puasa, haji, jihad, dan shadaqah. Tatkala malaikat azab datang dari arah kedua kakinya maka amal shalat berkata: “Menyingkirlah kamu darinya, sebab kedua kaki hamba itu telah memperpanjang malam-malamnya dengan beribadah bersamaku!” Malaikat azab kemudian datang dari arah kepala, amal puasapun berkata:”Tidak ada jalan bagimu untuk menyiksanya. Sebab hamba tersebut telah memperpanjang rasa dahaga, tidak makan juga tidak minum selama di dunia semata-mata karena Allah!” Malaikat azab kembali datang dari arah badan. Amal haji dan amal jihad berkata:”Menyingkirlah kamu darinya! Tidak ada jalan bagimu untuk menyiksanya. Sebab hamba tersebut telah melelahkan tubuhnya, fisiknya untuk haji dan berjihad!” Malaikat azab kembali dari arah kedua tangan hamba tersebut. Maka berkata amal shadaqah:”Tinggalkan sahabatku ini! Sebab sudah banyak shadaqah yang keluar dari kedua tangannya jatuh ke tangan Allah SWT, semata-mata untuk mencari ridho-Nya. Beberapa saat kemudian datang malaikat rahmat seraya mengucapkan kata-kata:”Kabahagiaan teruntukmu wahai hamba yang sholeh, di waktu hidup maupun matimu!” Dibentangkan teruntuknya tempat tidur dan selimut dari surga, diluaskan kuburnya, dan diberikan teruntuknya lampu yang dapat meneranginya hingga datang waktu saat Allah membangkitkan dari kuburnya.

Anak-anakku sayang…
Demikianlah, kubur yang tampak di mata diam membisu. Padahal bagi orang-orang yang berakal dia berbicara, mengingatkan, memberi pesan kepada yang masih hidup di dunia, bahwa ia adalah tempat persinggahan untuk menuju ke tempat keabadian yaitu akhirat. Bahwa ia adalah tempat kegelapan dan kesunyian. Hanya amal perbuatan selama hidup di dunia yang kelak akan menjadi teman dalam kesendirian. Amal baik atau amal buruk. Bila amal baik maka akan menjadi rahmat. Tapi bila amal buruk maka akan menjadi azab. Mari kita perbanyak amal baik untuk bekal menuju ke sana sehingga kubur kita kelak menjadi raudhoh, taman surga teruntuk kita. Bukan menjadi huproh, lubang api neraka. Naudzu billa min dzalik ..
Kita tutup dengan mengutip surat al Mutaffipin ayat 4-5:

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
واذا القبورُ بُعْثِرتْ. علِمتْ نفسٌ مَّا قدّمتْ واخّرتْ
Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar kemudian dikeluarkan penghuninya dalam keadaan hidup. Maka setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Saat itu tidak berguna lagi setiap amal baik yang dilakukan.

Penulis adalah Rois Syuriah MWC NU Tarumajaya

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *